Catatan Bisikan Menara Ezzitouna

Masjid ini megah, bebatuan kuning besar nan kokoh bertumpuk dengan rapih, memberikan kesan kuna namun perkasa. Menara nya dihiasi arabesque yang mengesankan dan seolah berhisik bagi insan yang menatapnya 'ki inta lhuna, tabi3 kol l9ouanin' ( engkau yg disini, patuhi setiap kewajiban)
Menara Ezzitouna

Aku tertuduk dengan itu, seraya mendengar adzan yg dikumandangkan dr atas menara agung itu, ingatanku melayang ke Ramadhan Tahun kemarin, mendamparkan jiwa nan hina ini di bawah naungan temaram cahaya keemasan nya hingga fajar tiba.
Teringat tentang tulisan ringan yang entah dalam momen apa ku tulis, yang tersangkut di google drive tertanggal 7 Mei 2016. Dan, voila!:

Ezzitouna adalah jami’ yang merupaka ikon kota Tunis. Banyak orang yang menggandrungi dan berfotoria disana dari turis sampai warga Tunisnya sendiri. Namun apakah anda tahu sejarahnya? 
Mumpung lagi ‘nyalse’  saya buat ringkasan sejarah pembangunannya. :)

Jami', di Tunis, adalah sebutan masjid yang menjadi pusat peribadatan dari sholat 5 waktu sampai sholat ied, juga sebagai pusat pembelajaran keilmuan sejak dulu. Jami' ini terletak di pusat Kota Tua Tunisia, ia dikelilingi pedagang dan pengrajin Tradisional. 

 Seperti itulah tata kota medina qadima di seluruh negeri yang dibangun saat kekuasaan Islam memerintah. Kota ini menggunakan masjid sebagai pusatnya, pedagang dan pengrajin halus seperti pengrajin perhiasan emas di lingkaran dalam, lalu pengrajin kasar seperti pandai besi di lingkaran selanjutnya, adapun perumahan ada pula yang berada di atas hanout nya atau samasekali berada diluar dari pada lingkaran ini. Di titik terluar akan kita temukan sur atau tembok yang melindungi kota ini dari serangan musuh, dihiasi dengan Gerbang-gerbang yang luar biasa kokoh menghiasi beberapa sudut sebagai tempat lalulalang dan akses utama masuk ke kota tua. Di salah satu sudut akan kita temukan gedung pemerintahan, bisa berupa istana bey, sultan, atau gubernur sesuai dengan kebutuhan politis suatu kota.
Qasbah dan sahah nya, pusat pemerintahan kota Tunis.
Ibarat kehidupan, akhirat dan hal-hal keagamaan juga pusat pendidikan sebagai pondasi ditengah lalu kehidupan perduniawian dan ekonomi yang menopang kehidupan lalu dilindungi dengan kewajiban masyarakat muslim utk ikut memberi manfaat secara politis jika sanggup. Kira-kira begitu filosofi nya.

Jami’ Ezzitouna dibangun setelah Jami Uqbah di Kairouan. Namun Pakar sejarah menyebutkan tahun yang berbeda -antara data dan wikipedia :D - antara 79-117 H (689-734 M). Adalah Hassan Bin Nu’man seorang komandan bani Umayyah yang berhasil merebut Kota Tunis (Carthage atau Africa) dan menginisiatif pembangunan masjid dibantu seorang arsitek kenamaan saat itu, Ubaidulla bin Hibheb yang juga mendapat mandat dari Khalifah Abd el Malik bin Marouan untuk membangun tempat pembuatan senjata dan perahu perang karena Tunis saat itu adalah perbatasan terdepan kekhalifahan umayyah yang sangat rawan akan serangan baik dari pihak Byzantium, Romawi, bangsa Frank atau Barbar (Amazigh) di daratan afrika. Dalam bahasa arab tempat pembuatan senjata adalah seperti ini adalah DarlSina’ah (دار الصناعة) yang pelafalannya menurut beberapa pakar sejarah adalah asal mula kata Arsenal dalam beberapa bahasa di Eropa dengan arti yang hampir sama. Gudang Senjata.
Moment Maulid Nabi di Jamii Ezzitouna
Yang cukup menarik dan tak banyak diketahui orang adalah Masjid ini dibangun di atas atsar bangunan dan situs Kristen. Menurut beberapa literatur sejarah dan pernyataan seorang arkeolog Perancis Paul Gauckler saat seminarnya di Kairo tahun 1907 bahwa ia melihat bagian dan peninggalan Gereja di bagian Menaranya saat direnovasi di akhir abad 19 M.
Ada hal menarik lain, jika diperhatikan di bagian qaus -bagian membusur yang menghubungkan antara tiang satu dengan yang lain- yang berada di luar masjid, dapat kita lihat lambang Bintang Daud. Ya, layaknya yang kita lihat di bendera Israel, dua segitiga, satu menghadap ke atas dan yang lainnya ke bawah, saling bertumpuk sehingga membentuk semacam bintang. Janganlah dulu alergi, lambang ini jika dirunut dari fakta sejarah, arkeologi dan arsitektur maka akan kita temukan hal yang sama di situs keagamaan yang lain, utama nya yang berkaitan dengan agama Ibrahim. Seperti ditemukan nya di salah satu Menara di Masjid Damaskus, atau yang di Tunis ada menara Jamii Testour dan di Jamii Ezzitouna, bahkan secara fakta politis, versi terdahulu dari bendera Maroko adalah Bintang Daud, alih-alih bintang segi lima seperti yang kita lihat sekarang. Hanya saja, lambang ini dianggap sebagai simbol pergerakan Yahudi atau lebih tepatnya zionisme di abad ke 19, yang sebenarnya berbeda dari yang dipahami sebelumnya. (Baca: https://www.google.com/amp/s/www.haaretz.com/amp/jewish/holocaust-remembrance-day/the-star-of-david-isn-t-just-jewish-1.5323219)
Adapun penamaanya para pakar sejarah memiliki beberapa teori atas dasar literatur yang berbeda. Sebagian percaya masjid ini dibangun diatas kebun zaytun kemudian di tebang dan disisakan satu pohon zaytun dibagian tengah Sahah atau halaman dalamnya. Ada juga yang mengatakan bahwa pohon zaytun itu memang satu satunya yang ada di tempat dibangunnya masjid. Namun hal pasti, yang kita tidak ketahui adalah adanya sebuah pohon zaytun ditengah saha dulu sebelum pemandangan yang kita lihat sekarang. 
Adalah daulah Al Aghlabiya di abad 3 Hijriah atau 9 Masehi yang membngun kembali masjid ini dengan bentuk dan aransemen yang masih sama dengan yang kita temukan sekarang. (Tamat tulisan asli)
Menara dari salah satu sudut kota
Setelah ku baca, aku merasa tulisan ini masih menggantung, dan akan ku biarkan tergantung hingga datang waktu 'nyalse' lain untuk menulis. Sekarang biarkan aku kembali diterbangkan ke Ramadhan tahun itu.

27 Januari 2020.

Comments