Catatan Niat Nan Jauh.
- Get link
- X
- Other Apps
Tulisan ini aku ambil dari catatan Facebook yang mungkin bisa memberikan pandangan baru buat kalian yang merasa berada dalam kegelisahan dan kejenuhan dihadapan kalian, sedangkan niat yang kalian patri diawal jauh panggang daripada api dengan apa yang kalian kerjakan. Aku menulis catatn ini saaat beberapa minggu berada di Tunis, dan pada saat itu aku langsung membuka hp jadul ku yang hanya hanya kugunakan untuk mendengarkan mp3, dan langsung ke dengan puisi Gusmus yang menginspirasi tulisan ini (bisa kalian dengarkan langsung di link ini https://www.youtube.com/watch?v=sR8btjZhGZs ) dan tulisan ini, aku yakin masih relevan untuk dibaca buat kalian. Enjoy!
Lucu saja,,, saya adalah anak baru di sini, tapi saya prihatin...Ucapan ini yang terlintas di kepalaku saat melihat diri ini dulu awal ketika tulisan ini di tulis...
Orang yang pertama datang ke negeri orang akan banyak berbicara mengenai fisik negara ini,,, bangunan2, orang2 bule berbahasa jauh dengan apa yang tertulis di kitab-kitab.. dan aku ahhh... sudah hampir 2 minggu aku menghirup udara negeri orang, makan makanan mereka dan tidur berselimut malam yang berbeda...
Welcome To The Jungle!!!!
Begitu kata GNR dengan segala efek musik rock yang kental...
Tapi ini bukan tentang apa yang diteriakkan oleh Axl Rose.. this is not a f*cking jungle! Bukan pula negeri 1001 malam di Timur! Bukan sahara dan pasir membakarnya! Ini adalah sebuah negeri Maliki! sebuah negeri Qolun!
Negeri ini punya penduduk yang lebih berpikiran dingin dari pada negeri Arab yang lain, katanya... dengan sistem lalu lintas yang belum aku pahami seluruhnya...
Rue Malasinne
dan hal lain yang jika saya bicarakan akan membuat catatan ini seperti catatan lain... :/
Oui! memang aku berfikir banyak tantang orang disini, tentang cuaca dan makanan-makanan aneh, cara beribadah yang berlainan dengan madzhab kami di Tanah Air, Syafiiyah, bangunan, masjid, atau unversitas,, tapi bukan itu inti catatan kali ini.
Terbersit sebuah ingatan tentang aku yang masih di pesantren, ingatan bahwa amal-amal selalu bisa tepat jika hanya bersamaan sejalan seiring dengan niatnya, lalu kita? maksud ku ya Kita semua. Lalu sebilah pertanyaan tajam menusuk sanubari ku: sudah kah seperti sanad ilmu aqidah Ta'lim Zaytunah yaitu berada on the right track?

Sanad Keilmuan Theologi Ta'lim Masjid Jami' Zaytunah
Dan aku dikejutkan oleh berleha-lehanya diri ini dengan apa yang akan dan sedang aku hadapi ini. Hasanan, ini memang bukan masalah kecil... semua orang punya urusan dan masalah dengan perkara ini, perkara niat. Dan saya, jujur, semenjak meninggalkan Pondok tercinta
Musholla Pondok
menetapkan iman akan niat adalah hal yang sulit. Ironisnya, kau tahu kalau kalimat "ingat tujuan dari rumah" menjadi sebuah propaganda penyemangat yang tersemat di almari-almari santri di pondok saat itu, apa kabar itu sekarang?
.
Disini, aku -seakan-akan- melihat seperti yang dilihat Gusmus, akan mudahnya kita goyah dari ghirah awal yang idealis menjadi realita yang pragmatis atau bahkan -na'udzubillah- hedonis...
Disini... aku hanya mengingatkan pada diri ini bahwa waktu adalah hal terpenting yang bisa mengubah manusia dari sifat asalnya, yang merugi, atau membiarkannya membusuk dalam keadaan merugi itu.
Coba tengoklah syair Gusmus ini jika anda menganggap diri anda seorang pencari ilmu yang -pernah- memiliki niat untuk tetap belajar di sebuah tempat dengan banyak yang ditinggalkan dan dikorbankan, atau jika anda bukan pelajar maka syair ini untuk siapa saja yang punya niat yang dulunya- mungkin kuat tapi sedang diterpa kelelahan, kejenuhan, keputusasaan....
Di Basrah
Inilah basrah... tanah batu putih.. tak pernah berhenti memerah..
tak pernah lelah dijarah sejarah..
Inilah basrah...
pejuang badar bernama utbah membangun kota ini atas perintah umar al faruq sang khalifah
Entah mantra apa yg dibaca ketika meletakkan batu pertama
Sehingga kemudian setiap jengkal tanahnya..
Tak henti-hentinya merekam nuansa seribu satu cerita
Basrah yg marah.. basrah yg merah.. basrah yg ramah.. basrah yg pasrah..
Kota yg terus membatasi penduduknya dengan menambah jumlah syuhada..
Inilah basrah.. disini ali dan aisyah.. menantu dan istri nabi
mengumpulkan dendam amarah.. ghirah terhadap keyakinan kebenaran ..
setelah mengantarka
n Az Zubair dan Al Haq, hawari-hawari nabi ke taman kedamaian abadi yg dijanjikan
Gusmus, a role model
Inilah basrah..
Di sini Abu Musa dan Abul Hasan mematrikan nama al Asy’ari pada lempeng sejarah
Inilah basrah.. di sini berbaur seribu satu aliran
Di sini sunnah, syiah dan mu’tazilah, masing-masing bisa menjadi bid’ah
Di sini berhala pemutlakkan pendapat terkapar oleh kekuasaan fitrah ..
Inilah basrah.. mimbar khalwat al Hasan al Bashari dan Rabi’ah ..
Inilah basrah.. tempat bercanda Abu Nuwas dan Walibah ..
Inilah basrah.. tempat al Musayyab dan syair-syairnya menghidupkan mirbat yang wah..
Inikah basrah... tangan takdir penuh misteri menuntunku.. tamu tak diundang ini kemari
Aku menahan nafas... Inikah basrah...
Inilah basrah.. setelah perang Irak-Iran
Korma-korma yg masih pucat melambai ramah..
Para pemuda, gadis, dan bocah menyanyi dan menari tahnyiah
untuk penyair mirbat yg berpesta merayakan
entah kemenangan apa
Di sini jumat siang 25 jumadil ula
Sehabis menelan dan memuntahkan puisi-puisi kebanggaan
Ratusan penyair dengan garang berhamburan menyerang kambing-kambing guling..
Ikan-ikan Syatul Arab yg dipanggang kering
Nasi samin dan roti segede-gede piring.. anggur dan korma kemurahan basrah..
Aku dilepas takdir ke tengah-tengah mereka..
mengeroyok meja makan yg panjang.. menelan puisi dan saji ..
sambil kuperhatikan wajah-wajah para penyair,.
Kalau-kalau…, ah… sampai Walibah dan Abu Nawas pun tak tampak ada..
Alun-alun di depan kantor pemerintahan "قصر البلد"Inilah basrah… bersama para penyair yg lapar.. kutelan semuanya..
Bersama-sama menghabiskan apa yang ada.. sampai mentari ditelan bumi..
Dan aku pun tertelan habis-habisan..
Basrah mulai gelap… barangkali adzan maghrib sudah dikumandangkan..
tapi tampaknya tak satupun yg mendengarnya..
Kami kekenyangan semua..
Dan aku, sambil bersendawa,
merogoh saku mencari-cari rokokku..
terasa kertas-kertas lusuh sanguku dari rumah..
puisi-puisi sufistik untuk al Bashari dan Rabi’ah..
Tiba-tiba.. aku ingin muntah..
Kulihat kedua zahid basrah itu.. di sudut sana sedang berbuka
hanya dengan air mata..
Aku ingin lari bersembunyi tapi kemana..
Tuhan.., berilah aku setetes saja air mata mereka.. untuk mencairkan batu di dadaku..
Basrah.. tolong, jangan rekam kehadiranku..
Basrah, 1410 H
***
setelah mendengar pengalaman Gusmus diatas aku tak tahan untuk bersyair:
Ini tentang
jiwa yang zuhud...
diri yang juhud...
Menara Masjid Ezzitouna
atau kah jumud...
Menara Masjid Ezzitounaatau kah jumud...
Terlena ternganga
lalu terbakar
jangan lihat aku dengan pakaian ini,
bajuku lalai,
busanaku dosa,
sandangku kesia-siaan
Mana bisa kerasnya bebatuan
sekuat itu...
sekuat itu...
jika hatiku dihantamkannya
remuklah batu manapun..
Ohh Tuhan, aku rindu aku yang dulu
ahhh Pencipta,
kuasai aku seperti dulu...
dan jangan beri aku kuasa lagi...
wahai Tuhan yang Berkuasa...
Mallasine, Tunisia, 4:25 WIB 20-10-2013
kuasai aku seperti dulu...
dan jangan beri aku kuasa lagi...
wahai Tuhan yang Berkuasa...
Mallasine, Tunisia, 4:25 WIB 20-10-2013
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment