AnsBol #3: Barcelona vs Atletico Madrid: Drama, Spirit dan VAR
Pertarungan taktikal, fisikal dan mental terjadi di Semifinal Supercopa Espana saat drama hebat, dominasi 3/4 permainan yg berakhir mengejutkan. Barcelona vs Atletico Madrid!
Barcelona turun dengan full fire power, dengan formasi 4-3-3 di atas kertas dan lebih sering berubah menjadi 3-2-5, bentuk possesion mereka yg begitu fluid khas Team dengan possesion tinggi dan menyerang. Lini tengah mereka begitu menggetarkan saat kita dengar nama-namanya, dengan the one and only, Lionel Messi, a genius creator and worst threat at the same time.
Atletico Madrid berformasi padat solid 4-2-2 menyerang dan bertahan, mengandalkan counter attack dengan transisi cepat dan low line defense. Bola panjang selalu dikirim kan kebelakang lini pertahanan Barça dengan Morata sebagai ujung tombak dan
João Félix sebagai second striker. Di tengah Koke tidak bermain sejak awal bahkan dibabak kedua dia hanya bermain sebentar mungkin karena fitness. Meski begitu kehadiran nya dilapangan memberi efek positif melalui tetesan darah pertama di perang besar di babak kedua.
Di babak pertama Kedua Team memiliki transisi yg baik, Atletico Madrid dengan skema serangan balik dan dengan rapih kembali ke bawah, sedang Barça melakukan counter pressing di tengah sehingga babak pertama kedudukan seri tanpa gol. Meski ada beberapa kesempatan besar melalui permainan kombinasi dr messi dan quick play dr Griezmann.
Tempo yg semakin tinggi dan tensi yg semakin panas mempengaruhi permainan sehingga banyak foul terjadi, dibabak pertama saja masing-masing team memiliki 9 foul dan 2 kartu kuning. Dengan drama konfrontasi antara Felix dan Messi sebelum turun minum.
Dibabak kedua atmosfer lapangan semakin memanas ditambah dengan gol dr Koke yg baru masuk menambah tekanan serangan dr Barcelona. Yang selalu dapat diperkirakan ketika dibiarkan bermain di 1/3 akhir lapangan Team dengan Messi dan komposisi yang lain hanya tinggal menunggu waktu untuk menembus pertahanan, sekuat apapun. Dengan lawan yang terlihat lesu dan tanpa semangat terbukti Barcelona mendapatkan 4 gol ke gawang Oblak, meski 2 diantaranya dianggap hand ball dan Offside oleh VAR.
Disisi lain hal tersebut mempengaruhi mental dilapangan, tertekan di pihak Barcelona dan nothing-to-lose feeling dr ATM. Disinilah sosok pelatih dengan leadership dan kepekaan membaca arah angin dilapangan dibutuhkan, seharusnya Valverde menenangkan para pemain agar tetap fokus dan memberi arahan agar tetap bermain dr kaki ke kaki sebagaimana kemampuan tertinggi Barcelona bermain bukan malah terburu-buru bermain bola tinggi. Disisi lain, Diego Simeone melihat perubahan atmosfer dilapangan, dia memaksa Thomas dkk. bermain dengan determinasi tinggi di 10 menit terakhir menekan Umititi yg tidak on form. Dan dia mendapat jackpot !
Prahara "VAR" (Video Atletico's Reinforcement)
Cukup menegangkan melihat drama tadi malam, bumbu pedas berupa VAR menarik perhatian, seakan memancing di air keruh keputusan wasit terlihat seakan memihak Team tertinggal saat itu.
Ada 4 titik kunci keputusan wasit yg bisa kita analisa lebih jauh. Pertama, gol Messi yang dianulir karena dianggap Handsball oleh wasit, jika dilihat sekilas, hanya skill Messi satu-satunya yg bisa mengontrol bola jatuh dengan sol lalu sentuhan 'pundak' dan mengecoh back, dan akurasi tingkat alien yang bisa melakukan itu. Namun saat melihat VAR wasit menganggap sentuhan pundak itu tidak sepenuhnya pundak, tapi lebih ke bagian lengan atas, which is right on my opinion.
Kedua, gol Pique. Dianggap offside posisi kepala Vidal berada dibelakang punggung dan bahu lawan, maka sesuai dengan peraturan terbaru mengenai VAR, bahwa ketentuan diterapkan seperti menentukan pemenang lomba lari atletik. Adapun tangan tidaklah dianggap bagian yang dihitung meskipun berada dibelakang kepala vidal, karena bagian tangan tidak bisa digunakan saat memainkan bola. maka keputusan yang tepat adalah offside, but what a pass btw from the Messi!
Ketiga, Atletico Madrid mendapat kesempatan besar saat crossing Morata Mengenai tangan Pique. Seharusnya wasit melihat VAR. Keputusan yang tidak tepat.
Keempat, tackle Neto seharusnya di crosscheck wasit karena cukup krusial dalam mempengaruhi jalannya pertandingan. Namun wasit memilih mengikuti intuisi nya yang mana jika dilihat melalui replay, itu cukup untuk memtuskan sebuah titik, bahwa Barcelona bernasib sial malam tadi.
AnsBol : Analisis Sepakbola
Penulis : Labib Elmuna
IG: labib_elmuna
Comments
Post a Comment