Catatan #12: Omelan Paman Amphitheater.

                Tulisan ini diambil dari catatan FB.
Ku tulis saat pertemuan yang menggetarkan dengan Amphitheater 6 tahun silam.
            
               Dilema ini dimulai saat aku berdiri di hadapan bangunan besar nan megah berwarna coklat ini, kupastikan lebih dari 18 Abad yang lalu setelah ku baca sedikit informasi dari plang yg menempel di dinding. Orang-orang berkerumunan berbaris bagai dicocok hidungnya masuk satu demi satu ke mulut bangunan ini, menuju ke perutnya... tujuan nya mungkin demi melampiaskan khayalan tentang darah, kekerasan dan ketidakmanusiawian.

               Bangunan ini terletak di Kota bernama El Djem, dulu mereka menyebutnya Thysdrus, kota yang menjadi saingan Hadrumetum (Souse) dalam memperebutkan kota terpenting kedua di Afrika Utara, karena  tentu Carthage lah Kota terbaik disana, ditanah subur yang limpahan Zaytun dan tanaman hijau nya bagai tak pernah habis sepanjang sejarah.

               Disana, terjadi konspirasi pada Gordian I, hingga dia berakhir bunuh diri di Carthage. Disana juga Maximinus Thrax, Kaisar Roma yang merebut tahta Gordian I saat itu memerintahkan agar  tentara yg loyal pada kekaisarannya memporak-porandakan Thydrus...

               Sejak dibangun di abad ke 3,  bangunan itu selalu perhatikan tiap gerak, bisik dan kerlipannya oleh para 'Pengubah Sejarah'.

               Namun kini bangunan saksi sejarah itu melamun lesu, lemas dengan polah tingkah konyol manusia kecil yang berlebel turis, melompat-lompat minta berfoto pada dengan tubuh tuanya yang masih gagah.
Aku dan Oncle Amphi, sebelum percakapan.

               Aku -yang juga berlebel sama dalamn pandangan Bangunan itu- diam-diam masuk berharap menemukan sesuatu dalam petualangan kecilku. lalu terperangah kaget saat wajah tua Amphitheater menatap marah saat mengetahuiku masuk kesana dengan diam-diam. Ya! bangunan itu menatapku! seakan-akan ingin melahapku dan menggilasku diantara batuan coklat tua nan kokohnya.
teman-teman berlabel turis..

                "Ποιος είσαι εσύ!!!!" dia berteriak ke arah ku,  aku tak bisa menjawab hanya suara "... a... aa... " Yang keluar dari mulut ku.

                "εσείς!! Ποιος είσαι εσύ!!!!" kembali dengan bahasa Yunani...

                "Je ne parle pas grecque, monsieur ! Je suis Indonésien" jawabku dengan bahasa Prancis, bertaruh mungkin hubungan nya dengan Penjajah Negara ini memaksa nya bisa berbahasa Prancis atau mungkin bangunan tua ini sudah terbiasa dengan turis-turis dari Negara Baguette dan Croissant...
Informasi di dinding kerongkongan Amphitheater.

                "... Indonesia? bangsa yang terjajah 4 abad itu?"

                "3,5 abad, Monsiour.." jawab ku mengklarifikasi...

                "Ah, tak peduli aku, yang jelas apa maumu!?"

                "aku.. aku..." aku gugup disambung bingung... celingukan mencari seseorang yang bisa membantu..

                "Voila! inilah yang membuat kalian terjajah, kalian gemar berlaku tanpa lihat konsekuensi! berlagak tak tau apa-apa sambil cari perlindungan, coba pikirkan apa yang bangsa-bangsa lain ambil dari kalian karena ketidakmandirian kalian. kalian juga senang menghujat sana sini, sesama bangsa sedarah seperjuangan" jeritannya menggemparkan seluruh kota. Aku semakin gemetar, mengernyitkan dahi berharap tak rusak gendang telinga ku. Pikiran ku mulai kusut.

                "Lihat aku! batu-batu tua bersusun coklat dan berdebu, tidak ada antara batu-batu ku yang saling menyerang satu sama lain, tidak seperti kalian!" Komparasi! aku makin menciut.
Lorong- Lorong Amphitheater
                "Kalian seharusnya lihat kekayaan yang kalian miliki. itu lebih dari cukup untuk umat kalian dari ujung pulau paling barat sampai batas pucuk tanahmu di pulau Timur...tapi nyatanya penduduk kalian banyak yang tak berkecukupan, bahkan mencuri untuk makan"  Vonis! Aku menyusut.

                "Pasti ulah para bedebah berdasi! ah kekuasaan dan harta memang tak bisa dipisahkan!" Klimaks! Aku tiba2 sakit perut.

                "Negeri kaya memang sulit untuk tentram, selalu jadi rebutan bangsa sendiri atau bangsa lain, mereka yang tak penuh perutnya dengan emas, minyak dan barang mahal lainnya" ia memaklumi, aku hanya mengangguk membuntut.

                "Masa depan Bangsa mu ada ditangan pemuda sepertimu, kalian para pemuda adalah telur yang bisa menetas hingga tumbuh sebagai elang nan gagah memipin kawanan dengan visi-visi brilian, ataukah kau hanya menjadi bebek pencari makan di lumpur sawah berebut bersama bebek-bebek lain di belakang bebek lain yang juga mencari makan, di giring oleh seseorang yang kau sendiri tak tahu dia siapa. Atau kau bisa memilih untuk tetap menjadi telur dan melihat hingar bingar dibalik cangkang berlindung dari keributan dan tak menambah keributan lain, tak punya pengaruh" Solusi, aku bergetar menahan tak kalang kabut.

                 "Ingat anak muda! Awas kau dan pemuda-pemuda lain!!" Intimidasi! aku tak sadarkan diri, ketakutan, hilang sadar, aku lalu semaput..
Coloseum terbesar ketiga di dunia
                Saat siuman, wajahnya hilang, menjadi benda mati lagi. Aku celingak-celinguk panik, lalu terdiam, terpukau mengingat mantra-mantra sang Amphitheater... Lalu lari kembali dibelakang orang berlabel turis, yang digiring oleh  seseorang yang kau sendiri tak tahu dia siapa...



El Jem, 16 Maret 2014

Comments