Catatan 35: Hari Kasih Sayang
Nemu tulisan ini di draft blog..
Rupa-rupanya sebuah catatan tentang Valentine entah berapa tahun yang lalu. Yang pasti waktu iku aku masih masuk kuliah.. dan memang kebetulan ternyata orang sedang merayakannya. Belum lengkap sih tapi aku coba lengkapi sambil ngeramaikan blog.
Wa ba3du:
Kemarin pagi di awal mata kuliah Madzahib wa Firaq, Dr. Amel Boughanmi tersenyum seakan-akan ada sesuatu yang istimewa. Aku yang awalnya tidak tertarik dengan mukaddimah beliau yang suka ngelantur akhirnya membuka teilnga lebar-lebar setengah tidak percaya bahwa beliau berkata,
'...'ied al-hubb...'
Valentine's Day dalam Berita Dunia
Ya, fete d'amour! dalam hati aku tertawa, sangat musykil, seorang dosen di Tunisia, berbicara tentang Hari Raya Kasih Sayang. Dibandingkan dengan apa yang terjadi di Indonesia. Mendekati hari ini saja media sosial sudah mulai hiruk pikuk dipenuhi perdebatan tentang ini itu. Ah mungkin di Tunis aja ini yang agak 'ngiwe', batin ku. Namun setelah melihat berita di koran maupun media online, rupanya beberapa negara arab pun terlihat lumrah dengan perayaan ini.Di Mesir Anggota Dewan Tertinggi Urusan Islam di Kairo, Abdel Azim Almtni membolehkan perayaan apapun yang memberikan dampak sosial yang baik, tentunya kata beliau, tidak melewati batas sharia. Di Ramallah, Palestine, sebuah media online mengunggah beberapa foto tentang sebuah toko bunga yang merayakan hari tersebut dengan memamerkan dan memberi bunga mawar. Di Tunisia sendiri, sastrawan dan seniman ramai-ramai mengingatkan tentang cinta terhadap sesama. Penyanyi kondang yang maha masyhur macam Nancy Ajram, penyanyi Libanon yang terkenal di Indonesia dengan lagunya Inta Eyh, kemarin datang ke Tunis bertepatan dengan perayaan Ied al hubb. sedangkan melalui media alchourouk,kemarin para politikus ramai-ramai mengingatkan tentang cinta tanah air. Tidak canggung para politikus ini berkata-kata dengan penuh semangat!!
Namun, Saudi, mereka punya fatwa sejak tahun 2000 melarang Valentine. Beberapa negara lain, seperti India juga membatasi hal tersebut. Mungkin pelarangan ini dilakukan demi menjauhi kemiripan dengan budaya lain, wallahu a'lam.
Sialnya, saat melirik berita di Tanah Air tercinta rupanya perayaan kasih sayang tidak lagi menjadi cinta yang melindungi, yang membuat terjalinnya hubungan sosial yang baik. Coba tengok, coklat berhadiah kondom lah, paket hotel murah di malam Valentine lah. sangat tidak timur...
Valentine's Day, Sebuah Fenomena Sosial
Sebenarnya, aku hampir ngga peduli dengan 'hukum' merayakan hari Velentine. Dan ku rasa para cendikiawan dan para sarjana tidak perlu meributkan masalah ini. Entah merasa tidak peduli, bosan dengan perdebatan tanpa ujung atau apapun itu.
Dari segi sejarah, jelas ini bukanlah milik Islam, perayaan ini semua adalah tentang St. Valentinus seorang suci yang di hukum pancung atau di penjara, entahlah, dan semua yang pasti adalah tidak ada sejarah yang pasti mengenai Valentinus ini.
Melihat ini dan itu, sebagian dari orang-orang berpendapat bahwa mengikuti sesuatu milik orang lain membuat kita jadi 'orang lain'. Itu yang mereka jadikan sebagai pegangan dan dasar dalam menolak perayaan itu. Tentu terlepas dari bagaimana orang lain memaknai hal tersebut.
Namun sebaliknya para pendukung perayaan ini merasa substansi yang ada di dalamnya sama sekali sangat islami, cinta dan kasih sayang selaras dengan untuk apa Nabi agama ini diutus Tuhannya. Terlepas bagaimana teks yang menurut sebagian orang melarang ngintil dengan apa yang kepercayaan lain lakukan.
Lalu..?
Fenomena sosial dalam pandangan pemikiran positivisme tidaklah lepas dari sebab-sebab sosial juga. Durkheim yang juga -dalam salah satu obrolannya di warung kopi, wkwkwk- berpendapat bahwa fakta sosial harus dianggap sebagai sesuatu, bukan sebagai gagasan atau ide, kenapa?
Dia beranggapan bahwa "Fakta sosial adalah setiap cara bertindak, baik tetap maupun tidak, yang bisa menjadi pengaruh atau hambatan eksternal bagi seorang individu." (random internet source), banyak hal yang bisa kita ketahui tentang masyarakat melalui fakta sosial, misal dari hal yang kecil seperti: orang indo ngga merasa udah makan kalau belum makan nasi, atau bikin jadwal acara cepat setengah jam biar yang datang bisa telat, sampai hal besar seperti 'merdeka atau mati'
Semua ini adalah fakta sosial, yang melalui nya kita bisa paham dan beradaptasi. Maka segala keanehan di luar yang berbeda akan dianggap penyimpangan.
Namun jangan dianggap fakta sosial adalah hal yang tetap. Dia bisa bertindak sebagai temporary thing, -macam PLT Gubernur Jakarta wkwkw-, sama seperti semua hal yang buatan manusia. Eh eh.. Ini bukan maksud ku mengatakan teks agama adalah buatan manusia loh.. netizen kadang salah paham kalau ada tulisan panjang diambil sepotong yang bisa dijadiin viral.
Maksudnya adalah pembacaan, tafsir, rekasi dan bentuk beragama yang dibuat oleh manusia. Cara beragamany yaa, bukan agamanya yang 'bisa' berubah tanpa kehilangan asasnya.
Kalau diperhatikan fakta sosial, bisa diartikan sebagai kumpulan dari fakta individu yang bersifat personal lalu berkumpul menjadi satu. Dan di sepakati oleh komunitas sebagai fakta sosial, dengan cara apapun, demokrasi, paksaan atau melalui undian. Wkwkwkw..
Nah berkaitan dengan komunitas, masyarakat dunia - widiih- punya permasalahan baru dengan adanya teknologi informasi, macam media sosial. Dengan logaritma yang masing-masing individu miliki di akun medsos nya, dia akan menjadi gelembung yang menahan dan mengurung pandangan individu ke orang-orang yang punya pandangan sama. Hingga menganggap bahwa fakta sosial adalah yang dia yakini saja, bukan melalui interaksi sosial, tapi melalui status di 'media sosial.
Lalu apakah salah punya sudut pandang yang berbeda?
Everything has a price. Semua ada konsekuensinya. Maka sebagai manusia yang dewasa yuk bareng-bareng membangun komunitas yang kuat nan bugar melalui komunikasi yang sehat. Dengan begitu kita akan selesai kan dengan saling bertatap wajah segala perbedaan, dengan intensi yang sebisa mungkin terlepas dari ego pribadi atau komunitas, terlepas dari politik identitas maupun kecenderungan kelompok. Dan selesaikan dengan cinta dan kasih sayang <3 <3 <3
Mari kita sepakati bahwa ada perbedaan mendasar antara agama per se, dengan cara kita mengaplikasikan agama, atau yang biasa dikatakan dengan istilah beragama. Contoh agama adalah: Tuhan itu Esa, tidak bersekutu, beribadah shalat dalam islam wajib 5 kali sehari, tapi dengan pakian apa kita sholat, dengan bahasa apa kita bersaksi bahwa Tuhan itu Esa, adalah beragama. Jika merasa tidak setuju maka silakan tutup blog ini dan kembali scroll grup wa keluarga sambil mikirin gimana jawaban buat perdebatan kelian, wkwkwkw
Tapi kalau teman-teman setuju, yuk mari kita lihat segala sesuatu sebagai alat, perangkat dan wasilah kita mendekatkan diri kepada Allah. Okey kita bisa menerapkan hal satu maupun menolaknya. Tidak ada yang salah dalam perdebatan, kecuali ya debat kusir, artinya ya ngga mencari kebenaran, tapi mencari pembenaran atas pandangan dirinya. Yuk kita lihat segala sesuatu dari perspektif orang lain sebelum menyatakan mereka salah. Lalu kita kaji nisbah atau timbangan mana yang lebih berat dari suatu hal, gal negatif atau manfaat nya? Dan tentu aku ngga setuju dengan berbagai bentuk kemaksiatan, dan mengatasnamakan kebebasan berpendapat utk kejelekan adalah. Namun juga mengatasnamakan agama untuk kepentingan pribadi atau kelompok dengan buta akan gejolak semesta adalah salah. Bukankah islam baik kapanpun dan di manapun?
Wkwkwk ngawang yah konklusi nya. Ya ga papa mari kita selesaikan sambil santai di warung kopi. Au revoir !
Comments
Post a Comment