Catatan 33: 'Sri Tanjung dan Cleopatra'

Catatan 'Sri Tanjung dan Cleopatra'

13 Mei 2014 pukul 9:44

               Di sela malam, sehabis Isya tiba-tiba Ahya nyeletuk 'Han, kalau ente dapet jodoh orang Tunis gimana han?' Seraya terkekeh.
'Waduh ahya omongannya jodoh, Bayjata mau kemanain, ahya, hahaha.. 'candanya, sambil menyebut salah satu teman Africa kami.

               Sesaat setelah mendengar itu, aku terdiam mengingat-ingat cerita yang pernah aku baca tentang gadis-gadis arab dan legenda kecantikannya, yang menitis langsung dari Siti Hawa atau tercampur anggunnya darah eropa.

Wanita ber-niqab
dengan mata biru
               Ahh... merinding jika mengingatnya, dan menyadari bahwa legenda itu sekarang hadir di pelupuk mata kami, melangkah di jalan yang sama dan bernafas dengan
udara yang sama. Gadis Tunis memang mampu melumpuhkan setiap kami yang telah didoktrin bahwa cantik itu putih, tinggi dan bangir persis yang di-propagandakan iklan sabun atau susu rendah gula. Bahkan dalam salah satu metafora yang pernah ku baca, bahwa jika 8 wanita arab berpapasan denganmu maka yang kau lihat ada 16 wanita yang cantik.. karena bayangannya pun cantik... cieee :D
               Yang ku lihat dari cewek-cewek Tunis yang kampus, meski berjilbab atau ber-niqob, aura mereka tidak hilang, ada garis kecantikan 1001 malam disana, juga kesan eropa masih tersisa, warisan yang bermuasal dari leluhur mereka yang berbaur dengan penduduk Meditarenia. Di luar kampus aku sering melihat rambut mereka yang coklat ataupun pirang, sesekali kutatap warna mata yang hijau atau biru. Bukti bahwa darah Perancis mengalir disana.
Perang Besar Zama
               Tunisia memang bukan arab sesungguhnya. Sejarah mengatakan, asal mereka adalah kaum Barbar yang jumlahnya kini tidak seberapa, mereka tinggal di selatan Tunisia. Atau bisa jadi mereka berasal dari bangsa Fenisia yang berpusat di kerajaan bernama Carthage, kerajaan yang mengusai lautan Meditarenia di abad 9 SM. Lalu datang Bangsa Romawi dengan Scipio Aficanus melemahkan Carthage, hingga berujung pada Perang besar Zama yang membuat Kerajaan Carthage Sirna Ilang Kertaning Bumi. Kekalahan ini mengakibatkan kota Carthage menjadi bagian dari Republik Romawi, dan bercampurlah darah bangsa Fenisia dengan darah Yunani. Roda sejarah tidak berhenti memutar kehidupan Orang Tunisia sampai disitu, pada abad ke-7 orang arab masuk melalui kota Kairouan dibawah komando Sahabat Nabi Uqbah bin Nafi’ RA atas Perintah Dakwah di Afrika Utara dari Amirul Mukminin, Islam dan Arab menyebar hingga seluruh Afrika Utara. Masih berlanjut, darah Perancis yang mereka dapat berasal dari masa Protektorat Perancis di abad 19 M. Hingga kekuasaan beralih dari para Bey ke tangan Habib Bourguiba. Lika-liku inilah yang mewarnai Tunisia hingga sekarang, Sejarahlah yang membentuk rupa dan karakter pemiliknya.
Wanita Tunis,,, :3
Kembali ke soal wanita, berkat pemimpin mereka dulu yang pro Perancis- para Tunissiyat sekarang adalah para francophone, pengujar asli bahasa perancis. Bahasa yang konon adalah bahasa terseksi didunia. Wew, aku punya pengalaman soal ini dulu saat masih baru disini. Ketika di perjalanan menuju Manouba dgn metro (kereta listrik atau trem ).
 Aku yang datang lebih awal mendapat tempat duduk, suatu hal yang jarang jika jam kerja. Tiba-tiba ketika aku sedang nyaman duduk, seorang wanita datang menghampiri, rambut pirangnya tergerai, sedikit menunduk, tersenyum, lalu berkata “Pardon, où vous descendez?” aku terdiam melihat gerak bibirnya yang ‘tak biasa’, suara sengau, nada yang manja, dan gesture yang menggoda. “Pardon Monsiour..” ulang nya lagi kali ini wajahnya heran. Aku pun berkata “Ena ma nahkisy bil faransa ya uktayya.. “ sambil tersenyum dan melepas kaca mata hitamku, agar dia tahu aku Musy Arabi. Dia pun ikut tersenyum, dan setelah itu, kami pun berbicara banyak hal mengenai Jackie Chan, absurd bukan? :D
Ilustrasi Cleopatra

Namun aku menegaskan diri untuk tidak terlalu dekat dengan mereka. Ada hal yang aku khawatirkan jika bergaul terlalu jauh dengan orang yang 'berbeda' dari kita budaya ataupun kehidupan sosial... bukan diskriminatif looh,, Apa lagi jauh hingga mempersunting salah satu dari mereka. Jangankan orang Tunis, pribumi nusantara pun jika mau berkeluarga harus pilah-pilih, karna bukan kah membangun keluarga itu mewujudkan sakinah mawaddah wa rohmah, dan bukan hanya bersuami dan beristri? Dan maqosid-nya juga untuk membangun lingkungan sehat bagi buah hati kita. Bukan berarti berkeluarga dengan mereka itu buruk, hanya saja, sesekali aku melihat prilaku mereka pada anak-anak dan cara mendidiknya tidak cocok denganku, Sekali lagi aku tidak men-generalisir, memang tidak semuanya menertibkan anak-anak dengan cara yang barbar, banyak juga yang lembut hatinya dan ramah pada anak-anak :) namun sekali lagi ini hak saya toh untuk tidak memilih wanita arab, meskipun kalau jodohnya wanita arab ya mau gimana lagi :3 
               Wanita arab juga tidak sembarangan memilih pasangan, harus yang mapan dan mampu, punya pekerjaan, rumah ada, serta mobil. Jangan lupa mahar dan biaya pernikahan. Tradisi pernikahan mereka, 7 hari 6 malam. Malam ke tujuh berupa pesta outdoor dengan tari-tarian. Sebenarnya, mereka bukan matre itu adalah sikap realistis khas arab. “Berkeluarga tidak murah, mau makan dari mana? mau tinggal dimana kita? sekolah dimana anak kita?” begitu kira-kira isi hati keluarga mempelai wanita. Jadi yang punya pacar orang tunis siapin aja Dinarnya :D. minimal 6000an :P
Ilustrasi Sri Tanjung
sebuah Kesetian
               Namun aku secara pribadi memilih, bukan karena rupa atau nasab, bukan bahasa atau harta. Tapi masalah hati, selera, dan kepercayaan. Lebih tenang rasanya jika hati lebih dimengerti, lebih suka jika seleranya cocok, lebih condong menitipkan persoalan rumah dan pendidikan pertama anak-anakku pada yang aku percaya, kata Nabi mah, ‘karena imannya’ :). dan bukti kesetiaan dan kelembutan Sri Tanjung mengalahkan akal cerdik dan keelokan Cleopatra...Wallahu a’lam
Suka ·  · 

Comments