Catatan 34; "Tuwansah dan Argumen-nya"

Pagi ini, mata kuliah Sosiologi agama, Sesaat setelah duduk di ruang belajar aku  merasakan ketegangan. Tidak aneh, matkul ini berat, istilah-istilah yang tidak biasa didengar akan berterbangan disela-sela pemaparan, apalagi bagi kami pelajar asing yang dalam ber'arab' sehari-hari pun masih sangat belepotan..  
Kami akhirnya memasang wajah selega mungkin, setelah Professor Samiah datang dengan senyuman khas nya diiringi salam yang juga lugas, tak ingin kami buat dia kecewa dengan ketegangan kami.. 
Kami pun memulai belajar. 
Ilustrasi Keributan
Di tengah penjelasan seorang mahasisiwa berpostur tinggi bertanya, "Apa perbedaan Naturalisme dan Animisme?" aku 'mbatin' ngga merhatiin ya, khouyya? sambil melihat teman yang begitu serius itu. Profesor hanya tersenyum, lalu melemparkan pertanyaan tadi ke mahasisiwa. Tak butuh waktu lama, seketika belasan Mahasiswa  dalam beragam bentuk mengangkat tangan. Dari yang berjaket kulit sampai  yang ber-niqab menjawab dengan pede, beberapa jawaban mengena sisanya numpang tenar. Biasanya proses ini diakhiri saling adu argumen, tak jarang argumen sekenanya demi membenarkan pendapatnya.ini akibat sikap keras kepala mereka, ya mereka memang keras kepala. Orang-orang arab memang begitu, sering mencari perhatian dengan atau tanpa alasan, baik cocok atau nggak alasan mereka. Namun -berbeda dari kebnyakan orang arab di negeri lain- di tunisia jika sudah terbukti dia salah atau kalah mereka akan mengangguk dan menghormati orang yang menang atau benar
Taxi, sama warna beda  rasa. :p
Sering, bahkan terlalu sering aku menyaksikan proses seperti ini, di Taxi, saat Syturo, teman majlis di Ta'lim Zaytuny berargumen tentang jalan mana yang lebih cepat dan tidak macet, setelah memaksa si supir kejalan yang ia pilih dan ia terbukti salah ia akan mengangguk dan terdiam. atau dii jalan saat dua mobil saling bersenggolan mereka tidak akan memindahkan kendaraan masing-masing dari badan jalan -tanpa menghiraukan klakson dari mobil lain- sampai salah satu dari mereka berkata "Sholli 'alannabiy.." lalu saling cipika-cipiki. dan pergi. Sangat keras kepala... 
Oh, ternyata bener ya apa yang dikatakan Quran bahwa :Orang-orang  Arab itu paling kufur dan paling munafiq. Sejarah membuktikan, mereka paling keras menentang sesuatu yang berbeda dari mereka, tidak heran Nabi di turunkan diantara mereka, kalau mereka yang paling keras kepala aja beriman apalagi yang lain, kan? Sebenarnya sikap ini memberikan beberapa keuntungan bagi mereka, meski akan berdarah2 menentang, namun ketika tersentuh hatinya dan terbuka sanubarinya, mereka akan menjadi pengikut paling setia yang rela menjadi martir untuk apa yang dipercayanya. Terbukti masih saja ada beberapa kelompok Arab yang dengan brutal melakukan apa saja demi apa yang mereka inginkan. 
Libya, dulu tanah kaya dan berkuasa,
sekarang tanah sengketa
Sejenak aku melihat diri, lalu lebih jauh kepada bangsaku sendiri, beberapa bulan lalu ada 2 tokoh politik masing masing dengan pengikutnya saling bersaing, yang saling menghujat satu sama lain. Suatu saat kesempatan memaksa mereka untuk bertemu, namun seakan tidak terjadi apa-apa mereka bersalaman lalu berpelukan. sama sekali tidak terlihat terjadi sesuatu yang besar di sana. Tuhan Maha tahu akan segalanya, apa mereka sebenarnya memang tidak bersitegang atau hanya berpura-pura akrab di khalayak ramai, tak pandai aku dalam masalah politik. 
Tak bisa ku bayangkan kalau hal ini terjadi pada orang-orang Arab.Mungkin bisa terjadi kekacauan bahkan bisa terjadi kudeta berdarah! tidak bohong! lihat Syria, Mesir, Libya! belum kering darah para Revolusioner mereka sudah termerahkan lagi dengan darah pencari kekuasaan. 
Coba tengok sebait pepatah arab yang juga dihapalkan di madrasah-madrasah islam di Indonesia; "Katakanlah kebenaran meski pahit!" ini mungkin budaya yang di terapkan di Arab dengan segala perbedaannya. agaknya saat kita pulang kelak ke tanah Nusantara mbok ya jangan mentah-mentah dihapalin dan dicekokin ke orang lain, coba cocokkan dan sesuaikan pepatah diatas sesuai dengan iklim kita disana, kira-kira menjadi; "Katakanlah kebenaran! tapi jangan menyakiti.." :-] 
Peringatan Revolusi di Tunisia
Uniknya di Tunisia tidak seperti kebanyakan negara arab lainnya, di sini, selama dan setelah pemilu kemarin tidak terjadi konflik atau keributan macam-macam, mungkin hanya beberapa pawai itupun tidak ricuh, bisa dikatakan tertib. Rakyat Tunisia memang terbelah menjadi dua karena Pemilu hanya melibatkan 2 kandidat. Namun peran organisasi masyarakat disini yang netral tanpa mengikuti salah satu poros membuat suasana kondusif. 
Salah satu faktornya adalah pendidikan!  Negara ini menyiapkan 26% APBN untuk pendidikan, dan
lihatlah apa yang di suguhkan secara sungguh-sungguh untuk kehausan para pencinta ilmu. Berbuah sesuatu yang sangat bernilai; Persatuan.
******
"Ya Labib! ma tuhibbesy taqrou?" Aku tersentak dan mengakhiri lamunanku, lalu ku baca teks tentang Animisme. :p

Comments