Catatan 2: Kota Ku

Kota Ku

17 Februari 2011 pukul 3:03
Renungan ini masih terasa bagaikan renungan tadi malam. Tahu kah drimu, kawan? Bahasa memang selalu metaforis, dan mungkin akan semakin metaforis dengan semakin 'berbedanya' kita. Tapi ini ku buat dengan segala ketulusan dan kejujuran. Meski terlihat subjektif, tapi kurasa inilah yang dirasakan tiap orang yang pernah tinggal di tempat seperti ini.
tempat nyantri



Amma ba'du:

Kau tahu kawan? Malam ini aku berpikir banyak tentang masa depan, maupun masa lalu. Selain memikirkan persiapan kegiatan Bulan Bahasa yang kurasa belum cukup -dan itu cukup menggilakan-, aku juga ini berpikir;
''...suatu saat, bila saat itu aku harus pergi, pasti aku akan rindukan tempat ini''

Yah, tempat ini, bentuk tembok-tembok ini dengan tiang yang menyendiri tanpa diterangi cahaya maupun tiang yang tersinari cahaya emas, lalu cahaya keemasan itu sendiri
yang terpancar menenangkan dari lampu pijar di Mushalla. Bayang-bayang tiang yang saling tumpang tindih, lalu asramaku dengan ubin hitamnya yang begitu luas -hingga kadang para santri bermain bola disana-, anak tangga yang berbaris menuju asrama atas dan juga asrama2 atas yang masih berlantai kayu maupun yang sudah ditembok, jendela-jendela yang masih terbuka dengan cahaya lampunya, ataupun jendela yang telah tertutup dan padam, kamar ubin hijauku yang semakin terlihat ruwed, santri-santri yang tertidur di Mushalla dengan berbagai sikap tubuh laksana mayat di medan pertempuran.
Dan tentu sahabatku, mushalla dengan ketentraman ...
...yang begitu damai...

Kolah santri -yang tidak pernah bersih - dengan kecoak yang lalu lalang dan hewan-hewan pengerat seukuran sepatu boots yang berlari-lari melompat berebut liang WC untuk bersembunyi, Tumpukan pakaian kotor yang berbau gorilla, suara langkah santri menuju WC, nyamuk-nyamuk yang membawa pedang di mulutnya, lalu hal-hal lain yang tak mampu kutangkap.
Musholla...
tetap lebih nyaman dari kasur ku sekarang 
cuaca malam diluar yang hangat, santri-santri yang saling menyahut, berdebat dari hal-hal remeh sampai masalah yang kilauan jawabannya termaktub di kitab-kitab yang mulai bau apek.

Bulan sabit, bulan purnama, malam-malam tanpa bintang....Bintang-bintang bercahaya kecil.
Dan yang paling -akan- aku rindukan para pengajarku -semoga Allah mengampuni dosa mereka- teman, kawan, sahabat dan saudaraku .

Meski sekarang kota ini telah berubah -terutama prilaku para penghuninya- aku merasa tak sanggup bila harus meninggalkan tempat ini, jika harus meninggalkannya, maka aku akan pergi setelah melakukan hal yang berharga untuk kota ini. Bila aku belum memilikinya, maka -dengan izin Allah- aku akan kembali ketika kudapati hal itu.

bukan begitu kawanku yang setia? seperti firman Allah:
"Dan carilah apa yang dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari ( kenikmatan) duniawi, dan berbuatlah baiklah (kepada orang lain) seperti Allah berbuat baik kepdamu" (Q.S Al Qishosh ; 77)




















Tidakkah kau merasakan yang kurasakan bila harus menempuh hidup sepertiku? bila harus tinggalkan tempat kau tumbuh dewasa?
Ma roaytum?

Selasa, 3 Dzul Qo'dah 1430 H
di jerambah kota santri
Batal Suka ·  · 
  • Muhammad Zuhri Anshari Jadi Rindu dengan kota klassik itu, hemmzz
    dimana segalanya bermula.
  • Deni Hermawan Benar2 Keadaan yg sesungguhnya. . . Atau terlalu jujur. . .
    .
    .

    Kapan kau tinggalkan tempat keramat it?
  • Deni Hermawan Sejak kapan bubur jadi jujur?
  • Deni Hermawan Kalau assanusi sama ga seperti apa yg di gmbrkan dlam ctatan di atas?
  • Muhammad Zuhri Anshari sedikit beda, tapi banyak juga miripnya.
    berjubal dengan kegaduhan santri2 kecil, plus obral obrol santri2 gede, sok gede, terpaksa gede, terlanjur gede sape yang gede beneran.
  • Deni Hermawan Hahaha. . . Pantesan ente cepet gede. Gaul'a ama yg udah jenggotan semua. Piss. . Hehehe..
    .
    .

    Hmm. . . Kya'a smua'a hmpir bner2 sama.. Untung lbib ga nulis kalau dia tdur di kmar, pastilah kepala'a harus di masukkan ke lemari lntaran kmar'a sempit tapi penghuni'a selusin. Kalo di tuliskan nanti kesan'a malah tersiksa.
  • Muhammad Zuhri Anshari iya dungg, kan biar ketularan Ilmunya. hihihi
    aji mumpung dibabakan.
    .

    wah iya tuh. hihihi

    tapi aku mah ga pe segitunya sehhh
  • Deni Hermawan Hmm. . . Kalau inget soal it'a , rasa simpati dn empati jd membumbung tinggi.. Ngebayangin stiap bngun tidur kegendor papan lemari aja udah ga enak.
  • Yunus Purnama Alloh.. Alloh.. Alloh..

    aku tak tau apa gerangan nama rasa yg tiba2 kini menyesaki dadaku,

    sepertinya hatiku tengah tersenyum menutupi tangisnya
    sementara raut mukaku kini bak pengantin ditinggal pasangannya

    Tuhan begitu indah men-skenario-kan ini semua,
    aku : jadi pelajar di kota itu (ini)
    kau : jadi pelajar yg jadi shahabat (saudara)-ku
    mereka : jadi mereka (shahabat, teman, guru, Mahaguru, dan pemain pendukung lain sebagainya)

    Setelah melalui scene-scene dan adegan yg warna-warni dan panjang namun penuh kesan,
    dimana ada bibir tersenyum, mulut tertawa, kepala manggut-manggut, air yg hampir keluar dari pojok mata, tangan yg merangkul (bahkan bertengkar), kadang ada api membara diantara aku,kau,mereka, dan mimik2 wajah lain disertai mega-skenario lainnya yg 'unique'

    Lalu, Tuhan yang Mahabaik itu dengan satu "KUN", Dia sebarkan (pencarkan) aku,kau,mereka pada tempat yg berbeda,
    "FAYAKUN" , we're apart now

    Sebenarnya (berdasarkan Kitab yang dianggap agung namun jarang dibaca itu) Tuhan menciptakan (men-skenario-kan) aku,kau,mereka hanya dan hanya "liya'buduun" , menyembah.
    Tapi imbas dari destinasiNya tersebut menyisakan memori yang tak terhitung,
    Seolah akan jadi sebatas kenang-kenangan saja,
    [sebagai bahan ngobrol di "tempat yg dijanjikan" bahwa dahulukala di alam yg disebut dunia, aku pernah jadi aku yang punya teman kau dan punya 'yang lain' yaitu 'mereka']

    Aku, kau, mereka (sebut saja, Kita)
    Tidak pernah hidup, dan tidak pernah mati
    Kita hanya merasa-hidup dan (akan) merasa-mati
    dan kita hanya 'diberi' perasaan-perasaan
    perasaan percaya (iman)
    perasaan senang-sedih
    dan perasaan "ingin kembali/bertemu" ini yang lazim disebut,

    R.I.N.D.U.

    yah kau benar, Rindu

    *)tempat yg dijanjikan : maksudnya Jannah (swarga)

    Kamis, 17 februari 2011
    di satu ruangan di sudut Nagari Ngayogyakarta Hadhiningrat
  • Muhammad Zuhri Anshari makin rindu aja neh,,,
    tapi kalo dah disana, suka malu2 apa yang mesti dilakuin,,, hihihihkkk
  • Labib El Muna Yunus. Qta yang -mmng- terdri dri wrna2 chaya yng berbda, nmun brasal dri sumber yang satu... Kmudian aku, kau dan mereka -kita- menabrak ti2k hujan... Dan puff!! Kita berpencar kesana kemari... Brubah dlam warna2 yang berbeda... Nmun tetap 'cahaya' dgan sgala memori trdhulu... Yah... Rindu...
  • Labib El Muna Deni. Hmm... Itu kliatn mgenaskan...hahah... Nte buka krtu... 
    Zuhri. Bysa.y pling expresif...
  • Deni Hermawan Hehehe. . .
    Initinya aku kamu mereka. Kita satu dalam RINDU
  • Labib El Muna Hu uh... Aku yng msih brada dtmpt ini pun sudah rindu... Palgi Klian yang telah mningglkn tmpt ini.... Rindu ku rindu dimensi wktu... Klian mgkin ruang dn wktu...
  • Deni Hermawan Dobel coi. . . Lbih mantap toh rindu'a. . . 
  • Zamie Bolin Time lost can't be found again ..

    Ga akan pernah ada yg benar2 sama., biar seandainya kita <smua yg dlu ada disana dalam 1 wktu> bsa brkumpul dtmpat yg sama. . .

    Tp te2p ada yg beda., ada yg hilang..

    Si A tlh brmetmrfsa mnjdi A+ ., etc ..

    *maaf kalo pada ga ngerti., aku cma diseret sm yg punya hajat bwt lirik note'y ;P

    [nundutan, dalam rangkulan selimut kumal..]
  • Labib El Muna Heheh, btul, sperti yang ane bilang, rindu dimensi ruang -kgen tmpat itu- rindu dmensi waktu -inget wktu itu-...
    .
    thx. Yooo
  • Zamie Bolin seandainya bsa diulang sm persis. . .
    ada 1 hal yg ingin sya perbaiki.,
    ingin lbh 'terlihat'., sya nyesel knp dlu ga trlihat dan ga da usaha biar bsa terlihat..
  • Daim Faqot tk da yg prcuma
    kaun msih bsa!
    yg penting kau pnya mimpi
  • Deni Hermawan @Daim : jenggot mu itu pnuh dengan mimpi. . Putus satu, tumubuh seribu

Comments